PATH
Istilah yang digunakan untuk menunjukan alamat dari sebuah file. Suatu path
biasanya terdiri dari drive temapat file berada, direktori yang dipakai,
subdirektori dari file tersebut, dan nama file yang dicari. Contoh, C:\
WINDOWS\system 32\calc, exe.
ANALISA JALUR (PATH ANALYSIS)
Analisis jalur pertama kali diperkenalkan oleh Sewall
Wright (1921), seorang ahli genetika, namun kemudian dipopulerkan oleh Otis
Dudley Duncan (1966), seorang ahli sosiologi. Analisis jalur bisa
dikatakan sebagai pengembangan dari konsep korelasi dan regresi, dimana
korelasi dan regresi tidak mempermasalahkan mengapa hubungan antar variabel
terjadi serta apakah hubungan antar variabel tersebut disebabkan oleh variabel
itu sendiri atau mungkin dipengaruhi oleh variabel lain.
A. DEFINISI
Path analysis (PA) atau analisis jalur adalah keterkaitan antara variable
independent, variable intermediate, dan variable dependen yang biasanya
disajikan dalam bentuk diagram. Didalam diagram ada panah panah yang
menunjukkan arah pengaruh antara variable-variabel exogenous, intermediary, dan
variabel dependent. Terkadang besaran pengaruh di gambarkan dengan ketebalan
anak panah. Path analysis hanya berkaitan dengan REGRESI GANDA dengan VARIABEL
YANG TERUKUR.
Analisis jalur merupakan teknik statistik untuk menguji hubungan kausal antara
dua atau lebih variabel, berdasarkan persamaan linier. Teknik ini dikembangkan
sejak tahun 1939 oleh Sewall Wright.Hubungan kausal ini ada yang langsung X→Z
dan juga ada yang tak langsung tetapi melalui variabel antara Y ialah X Y → Z.
Jalur yang di gambarkan dengan tanda panah ini merupakan → hipotesis yang
akan di uji berdasarkan data lapangan.
Berbeda dengan korelasi dan regresi, analisis jalur mempelajari apakah hubungan
yang terjadi disebabkan oleh pengaruh langsung dan tidak langsung dari variabel
independen terhadap variabel dependen, mempelajari ketergantungan sejumlah
variabel dalam suatu model (model kausal), dan menganalisis hubungan antar
variabel dari model kausal yang telah dirumuskan oleh peneliti atas dasar
pertimbangan teoritis. Melalui analisis jalur kita akan menguji seperangkat
hipotesis kausal dan menginterpretasikan hubungan tersebut (langsung atau tidak
langsung).
Asumsi yang digunakan dalam analisis jalur yaitu:
Linearity: keterkaitan/ hubungan antar variabel adalah
linier.
Interval level data disarankan jangan menngunakan variabel
dummy.
Residual (unmeasured) variables hanya berkorelasi dengan
satu variabel dalam model yang ada panah langsung.
Low multicollinearity secara teoretis taka ada korelasi yang
signifikan antar variabel exogen.
No under identification or under determination of the model
is required. For underidentified models there are too few structural equations
to solve for the unknowns. Overidentification usually provides better estimates
of the underlying true values than does just identification.
Adequate sample size diperlukan agar signifikan. Kline
(1998) merekomendasikan 10 sd 20 kali parameter yang akan di estimasikan.
Contoh model analisis jalur:
Dengan notasi-notasi yang digunakan sebagai berikut:
γ (gamma) : koefisien pengukur
hubungan antara variabel endogen dengan eksogen
β (beta) : koefisien yang mengukur
hubungan antar variabel dependen (endogen).
ϕ (phi) : koefisien yang
mengukur hubungan antar variabel independen (eksogen).
ζ (zeta) : varian peubah latent yg
tdk terjelaskan model
Y : variabel
dependen (endogen)
X : variabel
independen (eksogen)
Langkah-langkah dalam analisis jalur sebagai berikut:
1. Merancang model berdasarkan konsep dan teori
2. Pemeriksaan terhadap asumsi yang melandasi
3. Pendugaan parameter atau perhitungan koefisien jalur
4. Pengujian model
5. Interpretasi model
B Structural Equation Modeling (SEM)
SEM merupakan model analisis yang padaumumnya menggabungkan antara dua bagian
ialah i). pembentukan variabel LATENT dan ii). Pembangunan model struktural.
Analisis jalur merupakan bagian (subset) dari SEM adalah gabungan antara
REGRESI GANDA dengan variabel LATENT yang di bangun dengan analisis faktor dari
butir butir/indikator/ item atas variabel laten tersebut.
Hox dan Bechger (2002) menyebutkan bahwa SEM adalah suatu kombinasi analisis
faktor dan analisis regresi atau analisis jalur. Selanjutnya dikatakan bahwa
dalam penyusunan variabel latent didasarkan atas theoretical constructs yang
juga di hitung berdasarkanmetode regresi. Selanjutnya model structural
didasarkan atas covariances antara variabel exogen,variabel antara, dan
variabel endogen. Oleh karenanya model structural ini juga sering disebut
covariance structure modeling. Disana juga dikatakan bahwa “ Nowdays structural
equation models need not be linear, and the possibilities of SEM extend well
beyond the original Lisrel program”.
Variabel eksogen (exogenous) adalah variabel yang tidak ada anak panah
mengarahnya. Jika dua varaibel eksogen berkorelasi di tunjukkan dengan panah
dua arah.
Variabel endogen (endogenous) yang terdiri dari variabel antara dan variabel
dependen. Variabel antara terdapat anak panah yang datang dan juga yang pergi.
Sedangkan variabel dependen hanya terdapat panah yang datang menujunya.
Variabel LATENT adalah variabel yang diukur dengan indikator-indikator
(item-tem atau butir-butir) nya, misalnya variabel kesejahteraan, kepuasan,
partisipasi, pemahaman, dll. Cara klasik data variabel latent dengan
menjumlahkan skor butir-butir yang valid dan reliable. Cara yang terbaik dalam
SEM adalah di hitung dengan menggunakan metode confirmatory factor analysisis
(CFA) . Dalam CFA dirancang sedemikian rupa agar setiap butir/item menyumbang
(Loading) kepada satu variabel latent saja. Besaran sumbangan ini biasa disebut
LOADING yang berbeda beda sesuai dengan derajat variabilitas dan tingkat
korelasi terhadap item item yang lainnya. Hox dan Bechger (2002) menyebutkan
CFA confirmatory (restricted) factor analysis menjamin bahwa setiap item hanya
akan memberikan loading kepada satu variabel latent saja .
Path coefficient/ path weight pada umumnya adalah koefisien regresi yang
distandarkan (artinya regresi dimana semua variabelnya dalam bentuk z-score).
Disturbance terms adalah residual error yang besarannya sama dengan(1 - R2).
Dia mengukur sisa pengaruh faktor lain kepada suatu variabel exogen.
Significance and Goodness of Fit. Testing setiap koefisien dengan t-tes atau
F-test. Sedangkan untuk test kecocokan suatu model dengan jika Chi-square dg P
> 0.05 dan RMSEA < 0.05. Hox dan Bechger (2002) menyebutkan Goodness of
fit (Tuna Cocok) dengan chi squared dengan p-value lebih besar dari 0.05 persen
baru dikatakan model SEM cocok pada data empiris.
C. Langkah-langkah path analysis
Menurut Ferdinand (2006), ada tujuh langkah yang harus
dilakukan untuk menyiapkan analisis jalur, yaitu:
1. Pengembangan Model Teoritis
Dalam SEM, hal yang harus dilakukan adalah melakukan
serangkaian eksplorasi ilmiah melalui telaah pustaka guna mendapatkan justifikasi
atas model teoritis yang dikembangkan. SEM digunakan bukan untuk menghasilkan
sebuah model, tetapi digunakan untuk mengkonfirmasi model teoritis tersebut
melalui data empirik.
2. Pengembangan Path Diagram atau diagram alur
Dalam langkah kedua ini, model teoritis yang telah dibangun
pada tahap pertama akan digambarkan dalam sebuah path diagram, yang akan
mempermudah untuk melihat hubungan-hubungan kausalitas yang ingin diuji. Dalam
diagram alur, hubungan antar konstruk akan dinyatakan melalui anak panah. Anak
panah yang lurus menunjukkan sebuah hubungan kausal yang langsung antara satu
konstrak dengan konstrak lainya. Sedangkan garis-garis lengkung antar konstruk
dengan anak panah pada setiap ujungnya menunjukkan korelasi antar konstruk.
Konstruk yang dibangun dalam diagram alur dapat dibedakan dalam dua kelompok,
yaitu:
Exogenous constructs atau konstruk eksogen Dikenal
juga sebagai source variables atau independent variables yang tidak diprediksi
oleh variabel lain dalam model. Konstruk eksogen adalah konstruk yang dituju
oleh garis dengan satu ujung panah.
Endogenous construct atau konstruk endogen Merupakan
faktor-faktor yang diprediksi oleh satu atau beberapa konstruk. Konstruk
endogen dapat memprediksi satu atau beberapa konstruk endogen lainnya, tetapi
konstruk endogen hanya dapat berhubungan kausal dengan konstruk endogen.
3. Konversi diagram alur ke dalam persamaan struktural dan
model pengukuran
Persamaan yang didapat dari diagram alur yang dikonversi
terdiri dari:
• Structural Equation atau persamaan struktural
Dirumuskan untuk menyatakan hubungan kausalitas antar
berbagai konstruk. Rumus yang dikembangkan adalah:
Variabel endogen = variabel eksogen + variabel endogen +
error
4. Memilih matrik input dan estimasi model.
Pada penelitian ini matrik inputnya adalah matrik kovarian
atau matrik korelasi. Hal ini dilakukan karena fokus SEM bukan pada data
individual, tetapi pola hubungan antar responden. Dalam hal ini ukuran sampel
memegang peranan penting untuk mengestimasi kesalahan sampling. Untuk itu
ukuran sampling jangan terlalu besar karena akan menjadi sangat sensitif
sehiungga akan sulit mendapatkan ukuran goodness of fit yang baik,
setelah model dibuat dan input data dipilih, maka dilakukan analisis model
kausalitas dengan teknik estimasi yaitu teknik estimasi model yang digunakan
adalah Maximum Likehood Estimation Method. Teknik ini dipilih karena
ukuran sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah kecil (100-200
responden).
5. Menganalisa kemungkinan munculnya masalah identifikasi
Problem identifikasi pada prinsipnya adalah problem mengenai
ketidakmampuan model yang dikembangkan menghasilkan estimasi yang unik. Bila
setiap kali estimasi dilakukan muncul problem identifikasi, maka sebaiknya
model dipertimbangkan ulang dengan mengembangkan lebih banyak konstruk.
Disebutkan oleh Ferdinand (2006), beberapa indikasi problem identifikasi:
a. Standard error untuk satu atau beberapa
koefisien adalah sangat besar.
b. Program tidak mampu menghasilkan matrik informasi yang
seharusnya disajikan.
c. Munculnya angka-angka yang aneh seperti adanya varians
error yang negatif.
d. Munculnya korelasi yang sangat tinggi antar koefisien
estimasi yang didapat (misalnya lebih dari 0,9)
6. Evaluasi kriteria goodness of fit
Pada tahap ini dilakukan pengujian terhadap kesesuaian model
terhadap berbagai kriteria goodness of fit. Disebutkan oleh Ferdinand
(2006), beberapa indeks kesesuaian dan cut of value untuk menguji
apakah sebuah model dapat diterima atau ditolak antara lain:
X² - Chi-Square statistik, di mana model dipandang
baik atau memuaskan bila nilai Chi-Square-nya rendah. Semakin kecil nilai
Chi-Square, semakin baik model itu dan diterima berdasarkan probabilitas dengan cutoff value sebesar
p>0.05 atau p>0.10.
RMSEA (The Root Mean Square Error of Approximation), yang
menunjukkan goodness of fit yang diharapkan bila model diestimasi
dalam populasi. Nilai RMSEA yang lebih kecil atau sama dengan 0,08 merupakan
indeks untuk dapat diterimanya model yang menunjukkan close fit dari
model itu berdasarkan degrees of freedom.
GFI (Goodness of fit Index), adalah ukuran non statistikal
yang mempunyai rentang nilai antara 0 (poor fit) sampai dengan 1.0 (perfect fit).
Nilai yang tinggi dalam indeks ini menunjukkan sebuah “better fit”.
AGFI (Adjusted Goodness of Fit Index), di mana tingkat
penerimaan yang direkomendasiakan adalah bila AGFI mempunyai nilai sama dengan
atau lebih besar dari 0.90.
CMIN/DF, adalah The Minimum Sample Discrepancy Function yang
dibagi dengan Degree of Freedom. CMIN/DF tidak lain adalah statistic Chi-Square,
X² dibagi DF-nya, disebut X² relatif. Bila nilai X² reltif kurang dari 2.0 atau
3.0 adalah indikasi dari acceptable fit antara model dan data.
TLI (Tucker Lewis Index), merupakan incremental index yang
membandingkan sebuah model yang diuji terhadap sebuah base line model,
di mana nilai yang direkomendasikan sebagai acuan untuk diterimanya sebuah
model adalah ≥0.95 dan nilai yang mendekati 1 menunjukkan a very good fit.
CFI (Comparative Fit Index), di mana mendekati 1, mengindikasikan
tingkat fit yan paling tinggi. Nilai yang direkomendasikan adalah CFI ≥0.95
Tabel Good of Fit Index untuk Evaluasi Model
|
Goodness
Of fit index
|
Keterangan
|
Cut-off Value
|
|
Chi-square
|
Menguji apakah covariance populasi yang
diestimasi sama dengan covariance sampel (apakah model sesuai
dengan data). Bersifat sangat sensitive untuk sampel besar (di
atas 200)
|
Diharapkan Kecil
|
|
Probability
|
Uji signifikansi terhadap perbedaan matriks covariancedata
dan matriks covariance yang diestimasi
|
³ 0,05
|
|
RMSEA
|
Mengkompensasi kelemahan Chi-Square pada sample
besar
|
£ 0,08
|
|
GFI
|
Menghitung proporsi tertimbang varians dalam matriks
sampel yang dijelaskan oleh matriks covariance populasi yang
diestimasi (analog dengan R2 dalam regresi berganda)
|
³ 0,90
|
|
AGFI
|
GFI yang disesuaikan terhadap DF
|
³ 0,90
|
|
CMIND/DF
|
Kesesuaian antara data dan model.
|
£ 2,00
|
|
TLI
|
Pembandingan antara model yang diuji terhadap base
linemodel
|
³ 0,95
|
|
CFI
|
Uji kelayakan model yang tidak sensitive terhadap besarnya
sample dan kerumitan model
|
³ 0,94
|
Sumber: Ferdinand, A. (2002)
7. Interpretasi dan Modifikasi Model
Tahap akhir ini adalah melakukan interpretasi dan modifikasi
bagi model-model yang tidak memenuhi syarat-syarat pengujian. Hair et. al.
(dalam Ferdinand, 2006) memberikan pedoman untuk mempertimbangkan perlu
tidaknya modifikasi model dengan melihat jumlah residual yang dihasilkan oleh
model tersebut. Batas keamanan untuk jumlah residual adalah 5%. Bila jumlah
residual lebih besar dari 2% dari semua residual kovarians yang dihasilkan oleh
model, maka sebuah modifikasi perlu dipertimbangkan. Bila ditemukan bahwa nilai
residual yang dihasilkan model cukup besar (yaitu ≥2.58) maka cara lain dalam
memodifikasi adalah dengan mempertimbangkan untuk menambah sebuah alur baru
terhadap model yang diestimasi itu. Nilai residual value yang lebih
besar atau sama dengan ± 2.58 diinterpretasikan sebagai signifikan secara
statistik pada tingkat 5%.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar